Wednesday, December 26, 2012

KESALAHAN-KESA LAHAN WAHABY



Bismillaahirrohmaanirrohiim…, Alhamdu lillahi
rabbil alamiin…, Allohumma sholli ala sayyidina
Muhammad wa alihi wa ashabihi ajma’iin….

alhamdulillah dengan rahmat Allah dan hidayah-NYA, berikut akan saya tunjukkan kesalahan “kaum wahhabi”
dalam memahami permasalahan bid’ah.
Walaupun mereka selalu mengklaim sebagai
kebenaran satu-satunya dan merasa telah
mengikuti pemahaman para Sahabat Nabi, akan
tetapi kenyataannya mereka hanya “OMDO” atau omong doang, berikut ini adalah buktinya:

1. Mereka tidak memperdulikan perkataan
yang sangat masyhur dari Sahabat Umar:
“Ni’matul bid’atu hadzihi” (alangkah bagus
bid’ah ini).
_______________________
Di sini sangat jelas Sayyidian Umar memuji bid’ah (Sholat Tarawih Berjamaah
sebulan penuh) sebagai kebaikan, ini sekaligus
mencerminkan sejelas-jelasnya tentang adanya
bid’ah yang baik (hasanah). Jika kaum Wahabi
mengingkarinya sebagaimana yang mereka
telah pertontonkan selama ini, apakah masih pantas mereka menyebut dirinya sebagai
PENGIKUT PEMAHAMAN SAHABAT NABI?

2. Mereka tidak berani jujur dalam mengartikan kata “kullu” dalam hadits
“KULLU BID’ATIN DHOLALAH….
___________________
Sebaliknya mereka memaksakan arti “kullu” hanya satu
macam arti yaitu “setiap/semua”. Padahal arti
“kullu” itu ada dua sesuai kontek kalimat, yaitu :
“setiap/semua” dan “sebagian”. Jadi menurut arti
yang benar berkaitan hadits tersebut adalah
“SEBAGIAN BID’AH ITU SESAT….. DAN SETIAP KESESATAN TEMPATNYA DI NERAKA”. Maka
jelaslah maksudnya bahwa yang masuk neraka
adalah setiap kesesatan dan bukan setiap bid’ah
sebagaimana anggapan kaum Wahabi. Sebab
menurut Sayyidina Umar ternyata ada bid’ah
yang baik, dan bid’ah yang baik tentunya akan mendapat pahala berupa kenikmatan surga.

Bagi para penuntut ilmu yang mempelajari
ilmu mathiq di pesantren Salafiyyah
(pesantren klasik NU), bahwa menurut istilah ilmu manthiq arti kata KULLU sudah sangat
dimaklumi pengertiannya, yaitu:

1- Ada kata “kullu” yang berarti “setiap/tiap-
tiap/semua″ ini disebut “kullu kulliyah”

2- Ada kata “kullu” yang berarti “sebagian”
yang disebut “kullu kully”

Sebagai contoh “kullu kulliyah”, adalah
firman Allah dalam salah satu ayat Al Qur’an:
“Kullu nafsin dzaa’iqotul maut”

yang artinya “setiap yang berjiwa akan merasakan mati”. Kata
KULLU dalam ayat tersebut sangat tepat diartikan
“SETIAP” dan akan menjadi salah jika diartikan
“SEBAGIAN” karena faktannya memang semua/
setiap yang bernyawa pasti akan merasakan
mati. Demikianlah, kita tidak bisa mengartikan secara serampangan sehingga memaksakan arti
yang nantinya akan menimbulkan kontra
dengan fakta..

Adapun sebagai contoh “kullu kully”, adalah
firman Allah: “wa ja’alnaa minal maa’i kulla
syai’in hayyin” yang artinya “Dan telah kami
jadikan dari air SEBAGIAN makhluk hidup”..

Dalam ayat ini kalau kata “kulla syai’in” diartikan
“setiap/semua” maka akan kontra
(bertentangan) dengan kenyataan bahwa ada
makhluk hidup yang dijadikan Allah tidak dari
air. Ada makhluk yang dijadikan dari cahaya
seperti malaikat, dan ada yang dijadikan dari api; contohnya jin juga syetan dijadikan dari api.
Sebagaimana firman Allah: “wa kholaqol jaanna
min maarijin min naar” yang artinya “Dan Allah
telah menjadikan jin itu dari api..

Dari uraian di atas maka sudah jelaslah
bahwa arti “kullu” itu ada dua yaitu “setiap/
semua″ dan “sebagian”. Dalam mengartikan “KULLU” tidak bisa serampangan begitu saja,
tetapi harus melihat kontek kalimatnya agar
nantinya tidak menjadi kontra dengan realitas,
fakta atau kenyataan yang ada..

Oleh karena itu menjadi sangat
mengherankan apa yang selama ini
diperlihatkan oleh kaum wahhabi yang
bangga dengan kesalahan dalam
mengartikan “kullu” tanpa melihat kontek
kalimat,
sehingga mereka memaksakan arti “setiap/semua” untuk kata KULLU dalam hadits
BID’AH tersebut. Sehingga mereka ngotot
menggunakan dalil “kullu bid’atin dlolalah”
sebagai alat untuk membid’ahkan (mengharamkan) apa saja yang tidak ada
contohnya dari Nabi. Ini karena mereka menganggap semua/setiap bid’ah itu sesat tanpa
kecuali. Tentunya ini kontra dengan kenyataan
dan realitas bahwa ternyata ada bid’ah (hal baru)
yang baik (hasanah). Sampai-sampai sayyidina memuji bid’ah “NI’MATUL BID’ATU
HADZIHI; alangkah bagus bid’ah ini”.
____________________
Beberapa Kesalahan Kaum Wahhabi yang
Lainnya,,

BENAR-BENAR SUDAH MAHSYUR TERSEBAR DI
KALANGAN KAUM WAHABI BAHWA “BID'AH” ITU
HANYALAH ADA PADA URUSAN “IBADAH”. Pada selain urusan ibadah mereka anggap tidak ada
bid’ahnya. Mereka selalu mengatakan bahwa:
Ibadah itu tak boleh diubah, ditambah, dikurangi
atau diciptakan sendiri, kesemuanya harus
berbentuk asli dari Nabi. Gara-gara anggapan
seperti itu mereka lupa bahwa berdo’a itu adalah termasuk ibadah, dan di dalam berdo’a tentunya
kita bisa ngarang sendiri, menciptakan sendiri
dengan bahasa sendiri. Baru satu contoh ini saja
kaidah mereka menjadi runtuh sebab kontra
dengan kenyataan bahwa ibadah berdo’a itu kita
bisa menciptakannya sendiri.

ADAPUN URUSAN “SELAIN IBADAH”, KATA KAUM
WAHABI BOLEHLAH BERUBAH MENURUT KEADAAN
ZAMAN. Untuk mendukung anggapan ini mereka mengaplikasikan hadits Nabi saw: “Jika ada soal-
soal agamamu, serahkanlah ia kepadaku. Jika
ada soal-soal keduniaanmu, maka kamu lebih
mengetahui akan soal-soal duniamu itu”.

Dipandang secara dangkal dan sepintas lalu
anggapan Wahhabi ini seperti benar. Tetapi anggapan ini sesungguhnya adalah salah, hal ini
karena:

1- ”Bid’ah” itu selain dalam urusan “ibadah”
kenyataannya juga terdapat di dalam urusan
mu’amalah (pergaulan masyarakat) seperti: pementasan lakon-lakon Nabi dalam drama, baik
yang bersifat hiburan atau komersil. Juga
terdapat banyak contoh dalam kasus-kasus
yang bersifat mu’amalah.

2- Sebenarnya yang menjadi sasaran hadits
Nabi di atas adalah bukan mengenai “Bid’ah”
melainkan mengenai “hukum agama/
syari’at” dan “hal-hal dunyawiyyah yang
bersifat teknis”. Dalam hal teknis dunyawiyah, kita dianggap lebih tahu oleh Nabi Saw.

Sebagai contoh:

- Hukum membangun masjid adalah urusan
agama, harus dikembalikan kepada Nabi,
artinya harus bersumber dari Qur’an dan
sunnah. Sedang teknik pembangunannya adalah “urusan dunia” dan ini diserahkan
kepada ummat, terserah menurut
perkembangan peradaban manusia.

- Hukum pertanian agar hasil-hasilnya
menjadi halal atau haram adalah urusan
agama. Ini harus bersumber dari Qur’an atau
Sunnah. Teknik cocok tanamnya adalah urusan dunia, terserah kepada kita boleh mengikuti
perkembangan teknologi saat ini. Demikianlah
kita dipandang lebih tahu urusan teknisnya oleh
Nabi dalam hadits tersebut..

Di dalam pemahaman seperti inilah Nabi
menyabdakan Hadits di atas. Samasekali
bukan seperti dalam pemahaman “kaum
wahhabi” di atas, sehingga mereka dengan ngawur mengatakan bid’ah itu hanya ada dalam
urusan agama, tentunya hal ini tidak nyambung
dengan yang dimaksud Nabi dalam sabdanya
tersebut..
____________________
Kesalahan kaum wahhabi selain yang sudah
dicontohkan di atas, adalah mereka
menganggap bahwa “ibadah” itu hanya satu
macam yang mana semua bentuknya harus asli dari Nabi saw. Padahal faktanya tidak demikian
menurut ilmu yang benar. Bahwa yang benar
“ibadah” itu ada dua macam, yaitu:

1. Ibadah Muqoyyadah (Ibadah yang terikat)
atau biasa disebut juga sebagai ibadah
mahdhoh, contohnya seperti:

- Sholat wajib 5 waktu

- Zakat wajib

- Puasa Ramadhan

- Haji, dsb…..

Ibadah-ibadah ini mempunyai keasalan na
(keaslian na) dari Nabi saw dalam segala-
galanya, hukum na, teknik pelaksanaan na,
waktu dan bentuk na. Kesemua na diikat
(muqoyyad) menurut aturan-aturan tertentu.
Tidak boleh dirubah..

2. Ibadah Muthlaqoh (Ibadah yang tidak
terikat secara menyeluruh), atau biasa juga
disebut ibadah Ghoiru Mahdhoh, seperti contoh:

- Dzikir (lisan atau hati) kepada Allah SWT

- Tafakkur tentang makhluk Allah

- Belajar atau Mengajar ilmu agama

- Berbakti kepada ayah dan ibu (birrul walidain)

- dan masih banyak sekali
contoh na…

IBADAH-IBADAH INI MEMPUNYAI KEASLAHAN DARI
NABI SAW. DALAM BEBERAPA HAL, SEDANG
MENGENAI BENTUK DAN TEKNIK
PELAKSANAAN NA TIDAK DIIKAT DENGAN ATURAN-
ATURAN TERTENTU, terserah kepada ummat, asal tidak melanggar garis-garis pokok “Syari’at
Islam”. Pada ibadah muthlaqoh (ghoiru
mahdhoh) inilah terbuka peluang akan terjadi
“bid’ah hasanah”. Demikianlah paham
Ahlussunnah wal jama’ah yang jelas
bertentangan dengan pemahaman “kaum wahhabi”.......
__________
Sebelum mengahiri penjelasan mengenai
bid’ah ini, sebagai tambahan akan saya
berikan contoh-contoh bid’ah hasanah:

- MENGUMPULKAN AYAT-AYAT AL-QUR'AN
yang
sebelumnya terpisah-pisah menjadi kitab
(mushaf) yang tertib diawali dengan Fatihah
dan diakhiri dengan an-Naas. Kita tahu dalam sejarahnya sempat terjadi ketegangan di antara
sahabat-sahabat Nabi karena pengumpulan Al
Qur’an ini dianggap bid’ah oleh mereka. Tetapi
akhirnya dikumpulkan juga menjadi satu kitab
sehingga kita di zaman ini bisa menikmati baca Al
Qur’an. Ini berkat tindakan nekad para sahabat dalam melaksanakan bid’ah hasanah..

- MEMBERI TITIK-TITIK DAN SYAKAL PADA TULISAN
AL-QUR'AN. Sebagaimana dimaklumi Al Qur’an
pada masa Nabi saw tidak ada titik dan
syakalnya . Dengan diberinya titik dan syakal maka sekarang kita bisa membacanya dengan
mudah. Coba bayangkan seandainya tidak diberi
syakal dan titik, pastilah akan repot dan bahkan
sulit membaca Al Qur’an. Berkat pelaksanaan
bid’ah hasnah maka sekarang membaca Al
Qur’an bisa menjadi lebih mudah.

- MEMBUAT ISTILAH-ISTILAH HADITS SHOHEH, HADITS
HASAN, HADITS DLOIF dsb. Pada masa Nabi ini
juga tidak ada, tetapi berkat pelaksanaan
bid’ah hasanah maka kita bisa mengenali macam-macam hadits. Tentunya para ulama
dalam membuat istilah-istilah tsb diniatkan
ibadah, bahkan Imam Bukhori selalu sholat dua
rokaat setiap akan menulis hadits. Ini tidak ada
contoh na dari Nabi saw.

- MENGAJAR/BELAJAR AGAMA DI MADRASAH-
MADRASAH SECARA KLASIKAL (ber-kelas-kelas)
dan bertingkat-tingkat dari dasar, menengah
sampai universitas. Ibadah menuntut ilmu semacam ini tidak ada di zaman Nabi dan
Sahabat..
_______________________
Demikianlah penjelasan sejak awal
tulisan hingga akhir semoga bermanfaat dan mari kita akhiri dengan do’a semoga kita semua
dijauhkan Allah dari kesesatan paham kaum
wahhabi ini sampai akhir hayat nanti….
Sedangkan bagi kaum Wahabi betapa penting na bagi kalian untuk segera menyadari
kesalahan-kesalahan anda dalam memahami
bid’ah. Karena akibat kesalahan dalam
memahami bid’ah bisa menyebabkan
tersebarnya fitnah terhadap ajaran Islam dan
para Ulama juga kaum muslimin.. Semoga Allah menurunkan hidayah-NYA kepada kita semua…Amin Yaa Rabb..

Wa Shallallahu ala Sayyidina Muhammad wa alihi
wa ashabihi ajma’iin,
Walhamdulillaahirobbil’aalamiin

No comments:

Post a Comment